Alternatif Penisilin untuk Pencegahan Demam Reumatik Berulang
Jika Anda tidak memiliki penisilin, sulfadiazine adalah pilihan utama untuk pencegahan sekunder demam reumatik, dengan dosis 0,5 g sekali sehari untuk pasien ≤27 kg dan 1 g sekali sehari untuk pasien >27 kg. 1
Pilihan Antibiotik Alternatif Berdasarkan Prioritas
Pilihan Pertama: Sulfadiazine
- Sulfadiazine direkomendasikan oleh American Heart Association sebagai alternatif yang dapat diterima untuk pasien yang alergi penisilin 1
- Dosis yang direkomendasikan:
- Sulfadiazine bekerja dengan mencegah infeksi streptokokus, meskipun tidak efektif dalam eradikasi streptokokus grup A yang sudah ada 1
- Kontraindikasi pada kehamilan trimester akhir karena dapat melewati plasenta dan berkompetisi dengan bilirubin untuk tempat pengikatan albumin 1
Pilihan Kedua: Makrolida atau Azalida
- Jika pasien alergi terhadap penisilin DAN sulfadiazine, gunakan makrolida oral (eritromisin atau klaritromisin) atau azalida (azitromisin) 1
- Eritromisin direkomendasikan oleh American Heart Association untuk profilaksis jangka panjang faringitis streptokokus pada pasien yang alergi penisilin dan sulfonamida 2
- Perhatian penting: Makrolida (eritromisin dan klaritromisin) dapat menyebabkan perpanjangan interval QT secara dose-dependent 1
- Jangan berikan bersamaan dengan inhibitor sitokrom P-450 3A seperti antijamur azol, inhibitor protease HIV, dan beberapa antidepresan SSRI 1
Pilihan Ketiga: Sefalosporin Generasi Pertama
- Sefalosporin spektrum sempit dapat diterima untuk pasien alergi penisilin yang tidak menunjukkan hipersensitivitas tipe-immediate terhadap antibiotik β-laktam 1
- Tidak boleh digunakan pada pasien dengan riwayat reaksi hipersensitivitas immediate terhadap penisilin 1
Algoritma Pemilihan Alternatif
Langkah 1: Evaluasi Riwayat Alergi
- Jika tidak ada alergi penisilin → Gunakan penisilin (pilihan terbaik) 1
- Jika ada alergi penisilin → Lanjut ke Langkah 2
Langkah 2: Tentukan Tipe Alergi
- Jika alergi tipe immediate (anafilaksis, urtikaria akut) → Hindari semua β-laktam, gunakan sulfadiazine 1
- Jika alergi non-immediate → Sefalosporin generasi pertama dapat dipertimbangkan 1
Langkah 3: Evaluasi Kontraindikasi Sulfadiazine
- Jika tidak ada kontraindikasi → Gunakan sulfadiazine 1
- Jika hamil trimester akhir atau alergi sulfa → Gunakan makrolida/azalida 1
Langkah 4: Pertimbangan Khusus untuk Makrolida
- Periksa obat-obatan bersamaan untuk interaksi sitokrom P-450 3A 1
- Pertimbangkan risiko perpanjangan QT, terutama pada pasien dengan faktor risiko kardiak 1
Peringatan Penting dan Kesalahan Umum
Kesalahan yang Harus Dihindari
- Jangan gunakan sulfonamida atau tetrasiklin untuk pengobatan akut faringitis streptokokus karena tingkat resistensi tinggi, meskipun sulfadiazine efektif untuk profilaksis 3
- Jangan hentikan profilaksis tanpa konsultasi medis - kegagalan profilaksis paling sering terjadi pada pasien yang tidak patuh 1
- Jangan gunakan antibiotik spektrum luas seperti sefalosporin generasi ketiga - lebih mahal dan meningkatkan risiko resistensi 4
Pertimbangan Klinis Penting
- Profilaksis oral memiliki risiko kekambuhan lebih tinggi dibandingkan penisilin benzatin intramuskular, bahkan dengan kepatuhan optimal 1
- Durasi profilaksis tergantung pada jumlah serangan sebelumnya, waktu sejak serangan terakhir, risiko paparan infeksi streptokokus, usia pasien, dan ada/tidaknya keterlibatan jantung 1
- Pasien memerlukan instruksi berulang tentang pentingnya melanjutkan profilaksis untuk mencegah kekambuhan demam reumatik dan perkembangan penyakit jantung reumatik 1
Keunggulan Relatif Setiap Alternatif
- Sulfadiazine: Terbukti efektif dalam studi profilaksis sekunder, dosis sekali sehari meningkatkan kepatuhan 1, 5
- Makrolida: Berguna ketika sulfadiazine dan penisilin keduanya kontraindikasi, tetapi memerlukan pemantauan interaksi obat 1
- Sefalosporin: Dapat digunakan pada alergi penisilin non-immediate, tetapi kurang data untuk profilaksis jangka panjang 1