Penggunaan Gentamicin Intravena sebagai Inhalasi dan Protokol Azitromicin pada Remaja dengan Cystic Fibrosis
Gentamicin Intravena untuk Inhalasi
Sediaan gentamicin intravena TIDAK direkomendasikan untuk digunakan sebagai terapi inhalasi pada pasien cystic fibrosis, karena Cystic Fibrosis Foundation secara eksplisit menyatakan tidak ada bukti yang cukup untuk merekomendasikan gentamicin inhalasi dan tidak ada protokol standar untuk penggunaan obat ini. 1
Mengapa Gentamicin IV Tidak Cocok untuk Inhalasi
- Formulasi gentamicin intravena mengandung bahan tambahan seperti fenol yang berpotensi menyebabkan toksisitas pada saluran napas ketika diaerosolkan 2
- Tidak ada data keamanan jangka panjang untuk penggunaan gentamicin inhalasi pada pasien cystic fibrosis 1
- Risiko bronkospasme signifikan dengan antibiotik inhalasi yang tidak diformulasikan khusus untuk nebulisasi 1, 3
Alternatif yang Direkomendasikan
Tobramycin inhalasi adalah pilihan yang sangat direkomendasikan (Grade A) untuk pasien cystic fibrosis usia 6 tahun ke atas dengan penyakit paru sedang hingga berat dan infeksi P. aeruginosa persisten. 1
- Dosis: 300 mg dua kali sehari via nebulizer 1, 3
- Protokol: siklus 28 hari terapi, diikuti 28 hari tanpa terapi, secara bergantian 1, 3
- Indikasi: FEV1 < 70% prediksi dan infeksi P. aeruginosa persisten 1
- Manfaat terbukti: meningkatkan fungsi paru, kualitas hidup, dan mengurangi eksaserbasi 1
Pertimbangan Penting untuk Aminoglikosida Inhalasi
- Selalu berikan bronkodilator sebelum nebulisasi tobramycin untuk mencegah bronkospasme 1, 3
- Lakukan teknik pembersihan jalan napas sebelum nebulisasi untuk meningkatkan pengiriman obat 3
- Gunakan nebulizer yang menghasilkan partikel 2-5 μm diameter untuk mencapai bronkiolus kecil 3
- Tidak ada bukti toksisitas ginjal atau pendengaran ketika tobramycin inhalasi digunakan sendiri 3
Peringatan Khusus tentang Kombinasi Terapi
- Jika pasien menerima aminoglikosida intravena bersamaan dengan tobramycin inhalasi dosis tinggi, kadar serum tobramycin HARUS dimonitor karena risiko peningkatan toksisitas 2, 1, 3
- Cystic Fibrosis Foundation menyimpulkan tidak ada bukti cukup untuk merekomendasikan atau menentang penggunaan antibiotik inhalasi bersamaan dengan antibiotik intravena yang sama untuk eksaserbasi akut (Grade I recommendation) 2, 1
- Kadar aminoglikosida serum sulit diinterpretasikan ketika rute inhalasi dan IV digunakan bersamaan, terutama tergantung pada waktu pemberian 2
Protokol Azitromicin pada Remaja dengan Cystic Fibrosis
Azitromicin direkomendasikan sebagai terapi kronis untuk pasien cystic fibrosis usia ≥6 tahun dengan infeksi P. aeruginosa kronik, dan harus dilanjutkan selama eksaserbasi akut sebagai bagian dari terapi pemeliharaan kesehatan paru. 1, 4
Dosis dan Pemberian
- Pasien dengan berat badan ≥40 kg: 500 mg tiga kali seminggu (Senin-Rabu-Jumat atau pola serupa) 4
- Pasien dengan berat badan <40 kg: 250 mg tiga kali seminggu 4
- Pemberian oral, dapat diberikan dengan atau tanpa makanan 4
Mekanisme Kerja pada Cystic Fibrosis
- Azitromicin memiliki sifat mikrobiologis, imunomodulator, dan anti-inflamasi yang mengurangi kerusakan paru progresif pada cystic fibrosis 4
- Meskipun tidak aktif langsung terhadap P. aeruginosa, konsentrasi sub-inhibitori dapat mengurangi peran patogenik bakteri dengan mengganggu aktivitas bakteri dan meningkatkan kerentanan terhadap antibiotik lain 4
- Memiliki aktivitas anti-viral yang membatasi risiko eksaserbasi bakteri pulmonal yang sering terjadi setelah infeksi virus ringan 4
Durasi Terapi
- Azitromicin paling efektif selama tahun pertama pemberian 4
- Dampak pengobatan jangka panjang masih diperdebatkan dan memerlukan evaluasi individual 4
- Data menunjukkan efektivitas berkelanjutan, tetapi aspek penggunaan jangka panjang masih belum sepenuhnya terdefinisi 4
Manajemen Selama Eksaserbasi Akut
Cystic Fibrosis Foundation merekomendasikan melanjutkan terapi kronis untuk pemeliharaan kesehatan paru selama pengobatan eksaserbasi akut penyakit paru (Grade B recommendation). 2, 1
- Terapi yang harus dilanjutkan termasuk: azitromicin oral (jika sudah digunakan secara kronis), tobramycin inhalasi, dornase alfa, dan saline hipertonik 1
- Tidak ada alasan kuat untuk menghentikan terapi kronis yang direkomendasikan selama eksaserbasi 2
Monitoring dan Efek Samping
- Monitor kemungkinan resistensi antibiotik pada patogen bakteri lain yang biasanya mengkolonisasi pasien cystic fibrosis 4
- Insiden sebenarnya dari kejadian merugikan masih belum sepenuhnya terdefinisi 4
- Evaluasi potensi interferensi dengan terapi rutin lainnya 4
Pertimbangan Khusus untuk Remaja
- Remaja umumnya memiliki berat badan ≥40 kg, sehingga dosis standar adalah 500 mg tiga kali seminggu 4
- Kepatuhan menjadi kunci pada populasi remaja - jadwal tiga kali seminggu lebih mudah dipatuhi dibanding dosis harian 4
- Edukasi tentang pentingnya terapi jangka panjang untuk mencegah deteriorasi fungsi paru sangat penting pada kelompok usia ini 4
Kombinasi dengan Terapi Lain
- Azitromicin dapat digunakan bersamaan dengan tobramycin inhalasi untuk terapi pemeliharaan 1
- Tidak ada kontraindikasi untuk penggunaan bersamaan dengan antibiotik antipseudomonal lain selama eksaserbasi 2
- Hati-hati dengan penggunaan NSAID dosis tinggi (misalnya ibuprofen) bersamaan dengan aminoglikosida IV karena risiko nefrotoksisitas meningkat 2, 1
Peringatan Penting
- Jangan menghentikan azitromicin selama eksaserbasi akut jika sudah digunakan sebagai terapi kronis 2, 1
- Terapi airway clearance harus diintensifkan selama eksaserbasi (peningkatan waktu dan frekuensi) 2, 1
- Untuk eksaserbasi yang tidak terkontrol, pertimbangkan terapi antibiotik intravena kombinasi (biasanya beta-laktam antipseudomonal plus aminoglikosida) 1