What is the relationship between depression and the severity of motor symptoms in patients with parkinsonism, particularly those with Parkinson's disease?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: January 23, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Hubungan Depresi dengan Keparahan Motorik pada Parkinsonism

Depresi pada penyakit Parkinson secara signifikan berkorelasi dengan keparahan gejala motorik yang lebih buruk, dengan setiap peningkatan tingkat keparahan depresi berhubungan dengan skor UPDRS yang lebih tinggi, fungsi motorik yang lebih lemah, dan penurunan kemampuan aktivitas harian. 1

Bukti Hubungan Langsung

Depresi memiliki dampak negatif yang mendalam terhadap fungsi motorik pasien Parkinson melalui beberapa mekanisme:

  • Keparahan gejala motorik meningkat secara proporsional dengan tingkat depresi, dengan pasien yang mengalami depresi mayor menunjukkan skor UPDRS yang lebih tinggi, fungsi motorik yang lebih buruk, dan performa yang lebih rendah dalam aktivitas kehidupan sehari-hari dibandingkan pasien tanpa depresi. 2

  • Depresi secara independen memprediksi keparahan gejala motorik, dengan analisis regresi logistik menunjukkan bahwa keparahan gejala motorik (OR=2.69, p=0.004) merupakan faktor independen yang terkait dengan depresi. 3

  • Terdapat asosiasi spesifik antara depresi dengan bradikinesia dan rigiditas aksial, menunjukkan bahwa depresi tidak hanya mempengaruhi gejala motorik secara umum tetapi juga komponen motorik spesifik. 2

Mekanisme Kompensasi Motorik yang Terganggu

Kehadiran depresi pada pasien Parkinson yang baru terdiagnosis mencerminkan kompensasi motorik yang buruk:

  • Pasien dengan skor depresi tinggi (Beck Depression Inventory ≥15) menunjukkan defisit motorik yang lebih parah pada awal diagnosis dibandingkan dengan pasien dengan skor depresi rendah (≤7), bahkan setelah mengontrol ikatan dopamine transporter di putamen posterior. 4

  • Selama follow-up dengan median durasi 47 bulan, pasien dengan depresi berat memerlukan dosis levodopa-equivalent yang lebih tinggi untuk kontrol gejala dibandingkan pasien tanpa depresi, mengindikasikan bahwa depresi mengganggu kemampuan kompensasi motorik otak. 4

Dampak terhadap Kualitas Hidup

Yang mengejutkan, depresi berkontribusi lebih besar terhadap penurunan kualitas hidup dibandingkan gejala motorik:

  • Tingkat keparahan depresi total (skor QIDS-C16) memberikan kontribusi paling signifikan terhadap skor kualitas hidup, bahkan melebihi dampak gejala motorik yang parah. 5

  • Anhedonia merupakan gejala depresi spesifik yang paling berkontribusi terhadap penurunan kualitas hidup, sementara rigiditas merupakan gejala motorik yang paling berpengaruh. 1, 5

  • Risiko depresi meningkat 16% untuk setiap peningkatan 1 poin pada skor NMSS dan 5% untuk setiap peningkatan 1 poin pada skor PDQ-39, menunjukkan hubungan kuantitatif yang jelas. 6

Implikasi Klinis Penting

Skrining dan Deteksi Dini

  • Hanya sekitar 50% pasien dengan depresi ringan hingga sedang-berat yang menerima antidepresan, menunjukkan bahwa depresi sering tidak terdiagnosis dan tidak diobati dengan baik. 6

  • Pasien Parkinson harus diskrining secara rutin dan hati-hati untuk kehadiran depresi, terutama pada mereka yang menunjukkan perubahan pada gejala motorik atau non-motorik. 2, 6

Pertimbangan Terapi

  • Untuk pasien dengan kekhawatiran signifikan tentang risiko depresi yang menjalani DBS, stimulasi GPi harus dipertimbangkan daripada stimulasi STN, karena bukti Level I menunjukkan GPi DBS memiliki risiko depresi yang lebih rendah. 7, 1, 8

  • Kombinasi terapi untuk gejala motorik dan depresi harus dipertimbangkan sejak awal, seperti levodopa/carbidopa dikombinasikan dengan pramipexole (yang memiliki efek ganda pada gejala motorik dan depresi) atau SSRI seperti sertraline jika depresi lebih menonjol. 8

Peringatan Penting

  • Jenis kelamin perempuan merupakan faktor independen yang terkait dengan depresi (OR=1.830, p=0.05), sehingga pasien perempuan memerlukan perhatian khusus dalam skrining depresi. 3

  • Status nutrisi berkorelasi terbalik dengan kualitas hidup dan mobilitas, dengan depresi menjadi prediktor malnutrisi, sehingga pemantauan nutrisi dan vitamin direkomendasikan setidaknya setiap tahun. 1

  • Hindari menggabungkan selegiline dengan SSRI karena risiko sindrom serotonin. 8

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.