Hubungan Depresi dengan Keparahan Motorik pada Parkinsonism
Depresi pada penyakit Parkinson secara signifikan berkorelasi dengan keparahan gejala motorik yang lebih buruk, dengan setiap peningkatan tingkat keparahan depresi berhubungan dengan skor UPDRS yang lebih tinggi, fungsi motorik yang lebih lemah, dan penurunan kemampuan aktivitas harian. 1
Bukti Hubungan Langsung
Depresi memiliki dampak negatif yang mendalam terhadap fungsi motorik pasien Parkinson melalui beberapa mekanisme:
Keparahan gejala motorik meningkat secara proporsional dengan tingkat depresi, dengan pasien yang mengalami depresi mayor menunjukkan skor UPDRS yang lebih tinggi, fungsi motorik yang lebih buruk, dan performa yang lebih rendah dalam aktivitas kehidupan sehari-hari dibandingkan pasien tanpa depresi. 2
Depresi secara independen memprediksi keparahan gejala motorik, dengan analisis regresi logistik menunjukkan bahwa keparahan gejala motorik (OR=2.69, p=0.004) merupakan faktor independen yang terkait dengan depresi. 3
Terdapat asosiasi spesifik antara depresi dengan bradikinesia dan rigiditas aksial, menunjukkan bahwa depresi tidak hanya mempengaruhi gejala motorik secara umum tetapi juga komponen motorik spesifik. 2
Mekanisme Kompensasi Motorik yang Terganggu
Kehadiran depresi pada pasien Parkinson yang baru terdiagnosis mencerminkan kompensasi motorik yang buruk:
Pasien dengan skor depresi tinggi (Beck Depression Inventory ≥15) menunjukkan defisit motorik yang lebih parah pada awal diagnosis dibandingkan dengan pasien dengan skor depresi rendah (≤7), bahkan setelah mengontrol ikatan dopamine transporter di putamen posterior. 4
Selama follow-up dengan median durasi 47 bulan, pasien dengan depresi berat memerlukan dosis levodopa-equivalent yang lebih tinggi untuk kontrol gejala dibandingkan pasien tanpa depresi, mengindikasikan bahwa depresi mengganggu kemampuan kompensasi motorik otak. 4
Dampak terhadap Kualitas Hidup
Yang mengejutkan, depresi berkontribusi lebih besar terhadap penurunan kualitas hidup dibandingkan gejala motorik:
Tingkat keparahan depresi total (skor QIDS-C16) memberikan kontribusi paling signifikan terhadap skor kualitas hidup, bahkan melebihi dampak gejala motorik yang parah. 5
Anhedonia merupakan gejala depresi spesifik yang paling berkontribusi terhadap penurunan kualitas hidup, sementara rigiditas merupakan gejala motorik yang paling berpengaruh. 1, 5
Risiko depresi meningkat 16% untuk setiap peningkatan 1 poin pada skor NMSS dan 5% untuk setiap peningkatan 1 poin pada skor PDQ-39, menunjukkan hubungan kuantitatif yang jelas. 6
Implikasi Klinis Penting
Skrining dan Deteksi Dini
Hanya sekitar 50% pasien dengan depresi ringan hingga sedang-berat yang menerima antidepresan, menunjukkan bahwa depresi sering tidak terdiagnosis dan tidak diobati dengan baik. 6
Pasien Parkinson harus diskrining secara rutin dan hati-hati untuk kehadiran depresi, terutama pada mereka yang menunjukkan perubahan pada gejala motorik atau non-motorik. 2, 6
Pertimbangan Terapi
Untuk pasien dengan kekhawatiran signifikan tentang risiko depresi yang menjalani DBS, stimulasi GPi harus dipertimbangkan daripada stimulasi STN, karena bukti Level I menunjukkan GPi DBS memiliki risiko depresi yang lebih rendah. 7, 1, 8
Kombinasi terapi untuk gejala motorik dan depresi harus dipertimbangkan sejak awal, seperti levodopa/carbidopa dikombinasikan dengan pramipexole (yang memiliki efek ganda pada gejala motorik dan depresi) atau SSRI seperti sertraline jika depresi lebih menonjol. 8
Peringatan Penting
Jenis kelamin perempuan merupakan faktor independen yang terkait dengan depresi (OR=1.830, p=0.05), sehingga pasien perempuan memerlukan perhatian khusus dalam skrining depresi. 3
Status nutrisi berkorelasi terbalik dengan kualitas hidup dan mobilitas, dengan depresi menjadi prediktor malnutrisi, sehingga pemantauan nutrisi dan vitamin direkomendasikan setidaknya setiap tahun. 1
Hindari menggabungkan selegiline dengan SSRI karena risiko sindrom serotonin. 8