Hubungan Depresi dan Gangguan Motorik pada Penyakit Parkinson
Depresi pada penyakit Parkinson memiliki hubungan dua arah dengan gangguan motorik: depresi memperburuk gejala motorik dan keparahan gejala motorik meningkatkan risiko depresi, dengan keparahan motorik menjadi prediktor independen untuk depresi.
Prevalensi dan Dampak Klinis
- Depresi terjadi pada 31,8-66% pasien Parkinson, menjadikannya salah satu gejala non-motorik paling umum 1, 2
- Depresi dapat muncul sebelum onset gejala motorik atau pada stadium manapun dari penyakit 3, 4
- Bahkan depresi ringan memiliki dampak besar terhadap kualitas hidup pasien dan beban caregiver 3, 5
Hubungan Depresi dengan Keparahan Gejala Motorik
Faktor Motorik yang Meningkatkan Risiko Depresi
- Keparahan gejala motorik (skor MDS UPDRS Part III) adalah prediktor independen untuk depresi dengan odds ratio 2,69 2
- Stadium Hoehn dan Yahr yang lebih tinggi berkorelasi signifikan dengan peningkatan risiko depresi 1, 2
- Skor Unified Parkinson's Disease Rating Scale (UPDRS) yang lebih tinggi menunjukkan hubungan kuat dengan depresi 1
- Pasien dengan fluktuasi motorik dan diskinesia lebih rentan mengalami depresi 6
Mekanisme Neurobiologis yang Mendasari
- Disfungsi sistem monoaminergik (dopaminergik, serotonergik, dan noradrenergik) menghubungkan gejala motorik dan depresi 3, 4
- Gangguan jaringan limbik dan sirkuit striato-thalamic-prefrontal berkontribusi pada kedua manifestasi motorik dan mood 3, 4
- Evolusi disfungsi serotonergik, noradrenergik, dan dopaminergik bervariasi tergantung stadium penyakit 3
Dampak Depresi terhadap Fungsi Motorik
- Depresi mengurangi kemampuan pasien untuk berpartisipasi aktif dalam terapi rehabilitasi, memperpanjang pemulihan 7
- Pasien depresi menunjukkan lebih banyak keterbatasan fisik dan gejala yang lebih sering meskipun beban iskemia yang sama 7
- Depresi memprediksi pasien yang tidak menunjukkan perbaikan status fungsional setelah intervensi 7
Faktor Risiko Tambahan untuk Depresi pada Parkinson
Faktor Spesifik Penyakit
- Dosis levodopa ekuivalen harian yang lebih tinggi 6, 1
- Komorbiditas: ansietas, gangguan memori, halusinasi, gangguan tidur, hipotensi postural 1
- Status nutrisi: malnutrisi dan ansietas/depresi saling memprediksi 6
Faktor Non-Spesifik
- Jenis kelamin perempuan (odds ratio 1,83) 2
- Tingkat pendidikan lebih rendah 1, 2
- Tinggal sendiri 6, 2
- Usia lebih tua saat diagnosis 6
Pertimbangan Khusus untuk Deep Brain Stimulation (DBS)
- Jika ada kekhawatiran signifikan tentang risiko depresi pada pasien yang menjalani DBS, pertimbangkan stimulasi GPi daripada STN 7
- Studi Class I menunjukkan GPi DBS memiliki risiko depresi lebih rendah dibanding STN DBS 7
- Pasien DBS memerlukan monitoring ketat untuk penambahan berat badan yang dapat mempengaruhi mood 6
Implikasi untuk Manajemen Klinis
Skrining dan Diagnosis
- Skrining sistematis untuk depresi harus dilakukan pada semua pasien Parkinson menggunakan skala validasi seperti Geriatric Depression Scale (GDS-15) 5
- Gejala depresi memerlukan pengobatan terlepas dari keparahannya 5
- Penting membedakan antara anhedonia, apati, dan depresi karena tidak selalu terkait 5
Strategi Pengobatan
- Optimalisasi terapi penggantian dopamin dan evaluasi gejala motorik merupakan langkah pertama yang penting sebelum intervensi antidepresan 3
- Untuk depresi sedang hingga berat: dual serotonin-norepinephrine reuptake inhibitors (desipramine, nortriptyline, venlafaxine) 3
- Pilihan lain: SSRI (terutama sertraline), vortioxetine, bupropion, mirtazapine 5
- Agonis dopamin (pramipexole, ropinirole, rotigotine) dapat membantu mood dan motorik 5
- Aktivitas fisik harus direkomendasikan untuk semua pasien 3
Peringatan Penting
- Depresi sering underdiagnosed karena overlap gejala neurovegetatif (gangguan tidur, penurunan nafsu makan, fatigue) dengan gejala Parkinson 7, 2
- Hindari tricyclic antidepressants dan kombinasi MAO-B inhibitors dengan obat serotonergik karena efek samping serius 5
- Defisit kognitif dan afasia dapat menyulitkan penilaian depresi, memerlukan informasi dari multiple sources 7
- Monitoring nutrisi penting karena status nutrisi berkorelasi terbalik dengan kualitas hidup, terutama domain mobilitas dan kesejahteraan emosional 7, 6