What is the relationship between depression and motor severity in Parkinson's disease and its clinical implications and daily management?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: November 9, 2025View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Hubungan Antara Depresi dan Keparahan Motorik pada Parkinson

Depresi pada penyakit Parkinson berhubungan erat dengan peningkatan keparahan gejala motorik, fungsi motorik yang lebih buruk, dan penurunan kemampuan aktivitas sehari-hari, dengan keparahan motorik menjadi faktor independen yang memprediksi depresi. 1, 2

Hubungan Klinis yang Telah Terbukti

Dampak Depresi terhadap Fungsi Motorik

  • Pasien Parkinson dengan depresi mayor menunjukkan skor UPDRS yang lebih tinggi, mencerminkan keparahan penyakit yang lebih berat dan fungsi motorik yang lebih buruk dibandingkan pasien tanpa depresi 1

  • Depresi berkaitan dengan peningkatan keparahan bradikinesia dan rigiditas aksial, menunjukkan bahwa depresi tidak hanya mempengaruhi aspek psikologis tetapi juga manifestasi motorik spesifik 1

  • Setiap peningkatan 1 poin pada skor MDS-UPDRS Part III meningkatkan risiko depresi sebesar 2,69 kali lipat, menjadikan keparahan motorik sebagai faktor independen terkuat untuk depresi 2

  • Performa aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL) memburuk secara signifikan pada pasien dengan depresi komorbid, terlepas dari tingkat keparahan motorik 1

Prevalensi dan Faktor Risiko

  • Depresi mempengaruhi hingga 50% pasien Parkinson, dengan prevalensi 31,8% untuk depresi mayor dalam studi terkini 3, 2

  • Faktor spesifik penyakit yang meningkatkan risiko depresi meliputi: keparahan gejala motorik (MDS-UPDRS Part III score), stadium Hoehn and Yahr yang lebih tinggi, dan dosis levodopa ekuivalen harian yang lebih tinggi 4, 2

  • Faktor non-spesifik yang berkontribusi termasuk jenis kelamin perempuan (OR=1,83), tingkat pendidikan rendah, dan tinggal sendiri 2

  • Setiap peningkatan 1 poin pada Non-Motor Symptoms Scale (NMSS) meningkatkan risiko depresi sebesar 16%, dan setiap peningkatan 1 poin pada PDQ-39 meningkatkan risiko sebesar 5% 4

Implikasi Klinis

Dampak pada Kualitas Hidup

  • Depresi, bahkan yang ringan, memiliki dampak besar terhadap kualitas hidup pasien Parkinson dan pengasuh mereka, melebihi dampak gejala motorik saja 5, 3

  • Status nutrisi berkorelasi terbalik dengan kualitas hidup, terutama pada domain mobilitas dan kesejahteraan emosional, dengan depresi dan kecemasan menjadi prediktor malnutrisi 6

  • Depresi mengurangi kemampuan pasien untuk berpartisipasi aktif dalam terapi rehabilitasi, memperpanjang pemulihan dan membatasi perbaikan fungsional 6

Pertimbangan untuk Deep Brain Stimulation (DBS)

  • Jika terdapat kekhawatiran signifikan tentang risiko depresi pada pasien yang akan menjalani DBS, pertimbangkan stimulasi GPi daripada STN, karena studi Kelas I menunjukkan GPi DBS memiliki risiko depresi yang lebih rendah 7, 6

  • Pemantauan berat badan pasca-DBS sangat penting, karena mayoritas pasien mengalami kenaikan berat badan yang dapat memicu sindrom metabolik dan mempengaruhi mood 6

Tatalaksana Sehari-hari

Skrining dan Diagnosis

  • Semua pasien Parkinson harus diskrining secara rutin dan sistematis untuk depresi, terutama mereka yang menunjukkan perubahan gejala motorik atau non-motorik 4, 3

  • Gunakan Geriatric Depression Scale (GDS-15) sebagai alat skrining utama, karena telah tervalidasi dan direkomendasikan oleh konsensus ahli untuk diagnosis depresi pada Parkinson 3

  • Bedakan antara anhedonia, apati, dan depresi, karena gejala-gejala ini tidak selalu terkait dan memerlukan pendekatan terapi yang berbeda 3

  • Gejala depresi memerlukan pengobatan terlepas dari tingkat keparahannya, karena bahkan depresi ringan berdampak signifikan pada fungsi dan kualitas hidup 3

Optimalisasi Terapi Dopaminergik

  • Langkah pertama dalam mengelola depresi adalah optimalisasi terapi penggantian dopamin untuk memperbaiki gejala motorik, karena perbaikan motorik dapat mengurangi beban depresi 5

  • Levodopa harus diminum minimal 30 menit sebelum makan untuk menghindari interaksi dengan protein makanan dan memaksimalkan absorpsi 7, 8

  • Untuk pasien dengan fluktuasi motorik, terapkan regimen diet redistribusi protein (sarapan dan makan siang rendah protein, makan malam protein normal) untuk memaksimalkan efikasi levodopa 7, 8

  • Pantau efek samping levodopa yang dapat mempengaruhi status nutrisi, termasuk mual, muntah, penurunan berat badan, dan anoreksia 7, 8

Terapi Farmakologis Antidepresan

  • Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI), terutama sertraline, merupakan pilihan lini pertama yang efektif dan dapat ditoleransi dengan baik 3

  • Dual-action serotonin and norepinephrine reuptake inhibitors (SNRI) seperti venlafaxine, desvenlafaxine, dan duloxetine juga direkomendasikan, terutama untuk depresi sedang hingga berat 5, 3

  • Antidepresan multimodal termasuk vortioxetine, bupropion, mirtazapine, dan tianeptine dapat dipertimbangkan 3

  • Agonis dopamin anti-Parkinson seperti pramipexole, ropinirole, dan rotigotine memiliki efek antidepresan tambahan 3

  • Hindari antidepresan trisiklik dan kombinasi inhibitor monoamine oxidase tipe B dengan obat serotonergik karena efek samping serius pada pasien Parkinson 3

Pemantauan Nutrisi dan Vitamin

  • Pantau berat badan secara teratur (minimal tahunan), karena penurunan berat badan adalah fitur kunci yang terkait dengan progresivitas penyakit 7, 6

  • Lakukan asesmen nutrisi menggunakan Mini-Nutritional Assessment (MNA) untuk mendeteksi risiko malnutrisi, yang mempengaruhi sekitar 15% pasien Parkinson 6

  • Monitor kadar vitamin D dan berikan suplementasi, karena kadar rendah dikaitkan dengan risiko dan progresivitas Parkinson 7, 6

  • Perhatikan khusus pada kadar homosistein dan status vitamin B (B6, B12, dan folat), karena levodopa meningkatkan homosistein melalui metilasi yang dimediasi COMT 7, 8

  • Suplementasi vitamin B mungkin diperlukan pada pasien dengan dosis levodopa tinggi untuk mempertahankan kadar homosistein normal 7

Intervensi Non-Farmakologis

  • Cognitive behavioral therapy (CBT) direkomendasikan untuk kasus depresi ringan sebagai terapi tambahan atau alternatif 3

  • Electroconvulsive therapy (ECT) diindikasikan untuk kasus depresi berat dan refrakter terhadap obat, meskipun harus dipertimbangkan dengan hati-hati 3

  • Aktivitas fisik dan program latihan harus didorong, karena dapat memperbaiki gejala motorik dan mood secara bersamaan 5

  • Terapi rehabilitasi disfagia (modifikasi bolus, manuver postural, program latihan) harus disesuaikan secara individual setelah asesmen multidimensi fungsi menelan 7

Perangkap Umum yang Harus Dihindari

  • Underdiagnosis depresi: Hanya 50% pasien dengan depresi ringan hingga sedang yang menerima antidepresan, menunjukkan depresi sering tidak dikenali dan kurang diobati 4, 2

  • Mengabaikan hubungan bidireksional: Depresi memperburuk fungsi motorik, dan fungsi motorik yang buruk meningkatkan risiko depresi—keduanya harus ditangani secara bersamaan 1

  • Menunda intervensi nutrisi: Penurunan berat badan dapat terjadi sejak diagnosis dan terkait dengan progresivitas penyakit; pemantauan dini mencegah komplikasi 6

  • Mengabaikan interaksi protein-levodopa: Pasien dengan fluktuasi motorik mendapat manfaat dari diet redistribusi protein yang dapat memperbaiki gejala motorik dan mengurangi beban depresi 7

  • Tidak mempertimbangkan target DBS: Pada pasien dengan risiko depresi tinggi, pemilihan GPi dibanding STN dapat mengurangi risiko perburukan mood pasca-operasi 7, 6

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.