Antibiotik untuk Pasien Tifoid dengan Esofagitis Ulseratif di Rumah Sakit
Untuk pasien tifoid yang dirawat di rumah sakit dengan komplikasi esofagitis ulseratif, azithromycin 500 mg sekali sehari selama 7-14 hari adalah pilihan lini pertama, atau ceftriaxone 1-2 g IV sekali sehari selama 5-7 hari untuk kasus yang memerlukan terapi parenteral. 1, 2, 3
Algoritma Pemilihan Antibiotik
Pilihan Lini Pertama: Azithromycin
- Azithromycin 500 mg sekali sehari selama 7-14 hari adalah terapi pilihan utama, terutama mengingat tingginya resistensi fluoroquinolone di Asia Selatan (>70%) 1, 2, 3
- Azithromycin menunjukkan hasil superior dengan risiko kegagalan klinis lebih rendah (OR 0.48) dibandingkan fluoroquinolone 2, 3
- Lama rawat inap lebih singkat sekitar 1 hari dengan azithromycin (MD -1.04 hari) 3
- Risiko relaps dramatis lebih rendah dengan azithromycin (OR 0.09) dibandingkan ceftriaxone 2, 3
Pilihan Alternatif: Ceftriaxone untuk Terapi Parenteral
- Ceftriaxone 1-2 g IV/IM sekali sehari selama 5-7 hari direkomendasikan untuk kasus berat yang memerlukan terapi parenteral 1, 2, 3
- Ceftriaxone efektif dengan respon klinis cepat, dengan demam mereda dalam rata-rata 4 hari 4, 5
- Durasi terapi 5-7 hari ceftriaxone terbukti adekuat untuk kesembuhan 4, 5, 6
- Setelah perbaikan klinis dengan terapi IV, dapat dilakukan transisi ke azithromycin oral 1
Pertimbangan Khusus untuk Esofagitis Ulseratif
Mengapa Kombinasi Ini Optimal
- Esofagitis ulseratif memerlukan antibiotik yang dapat diberikan parenteral pada fase awal karena kemungkinan kesulitan menelan dan absorpsi oral yang terganggu
- Ceftriaxone IV memberikan konsentrasi jaringan yang tinggi dan dapat diberikan sekali sehari, memudahkan pemberian 4
- Setelah esofagitis membaik dan pasien dapat menelan, transisi ke azithromycin oral dapat dilakukan untuk melengkapi terapi 1
Protokol Pemberian
- Fase awal (hari 1-3): Ceftriaxone 2 g IV sekali sehari 1, 2
- Evaluasi kemampuan menelan dan perbaikan esofagitis
- Fase lanjutan: Jika pasien dapat menelan, transisi ke azithromycin 500 mg oral sekali sehari untuk melengkapi total 7-14 hari terapi 1, 2
Monitoring dan Respons yang Diharapkan
Evaluasi Klinis
- Demam harus mereda dalam 4-5 hari setelah terapi antibiotik yang tepat 1, 2, 3
- Jika tidak ada respons pada hari ke-5, pertimbangkan resistensi atau diagnosis alternatif 3
- Kultur darah harus diambil sebelum memulai antibiotik jika memungkinkan, dengan hasil tertinggi dalam minggu pertama onset gejala 1, 2, 3
Efek Samping yang Perlu Dimonitor
- Efek samping azithromycin yang umum: mual, muntah, nyeri abdomen, dan diare 1, 2, 3
- Perhatikan interaksi obat dengan azithromycin, terutama obat yang memperpanjang interval QT 1, 2
- Ceftriaxone umumnya ditoleransi dengan baik dengan efek samping minimal 4, 5
Kesalahan yang Harus Dihindari
Jangan Gunakan Ciprofloxacin Secara Empiris
- Jangan pernah menggunakan ciprofloxacin secara empiris untuk kasus dari Asia Selatan/Tenggara karena resistensi hampir universal (mendekati 96% di beberapa wilayah) 2, 3
- Fluoroquinolone hanya boleh digunakan jika sensitivitas dikonfirmasi melalui kultur 3
Jangan Hentikan Antibiotik Terlalu Dini
- Lengkapi kursus antibiotik penuh 7-14 hari bahkan jika demam mereda lebih awal, karena relaps terjadi pada 10-15% kasus yang tidak diobati secara adekuat 1, 2, 3
- Penghentian dini meningkatkan risiko relaps dan kegagalan terapi 1, 2
Hindari Cefixime sebagai Lini Pertama
- Cefixime memiliki tingkat kegagalan terapi 4-37.6% dan tidak boleh digunakan sebagai lini pertama 3
- Jika cefixime harus digunakan, test-of-cure wajib dilakukan pada minggu ke-1 3
Manajemen Komplikasi
Perforasi Intestinal
- Perforasi intestinal terjadi pada 10-15% pasien ketika durasi penyakit melebihi 2 minggu 1, 2, 3
- Memerlukan intervensi bedah segera dengan eksisi sederhana dan penutupan, berhasil pada hingga 88.2% kasus 1, 2, 3
- Jangan tunda intervensi bedah jika terjadi perforasi 1
Esofagitis Ulseratif Spesifik
- Berikan terapi suportif untuk esofagitis: inhibitor pompa proton, diet lunak/cair sesuai toleransi
- Monitor kemampuan menelan sebelum transisi ke terapi oral
- Pertimbangkan nutrisi parenteral jika intake oral sangat terbatas