Manajemen Polisitemia Vera pada Kehamilan dengan Hiperviskositas dan Demam
Intervensi Segera untuk Hiperviskositas
Flebotomi segera merupakan terapi lini pertama untuk menurunkan hematokrit target <40-45% guna mengurangi risiko trombosis dan memperbaiki gejala hiperviskositas. 1, 2, 3
- Pada polisitemia vera dengan kehamilan, kontrol hematokrit ketat terutama di trimester pertama sangat penting untuk meningkatkan angka kelahiran hidup dari 49% (tanpa terapi) menjadi 77% (dengan terapi optimal) 1
- Flebotomi harus dilakukan secara serial untuk mencapai target hematokrit <40%, karena hiperviskositas darah merupakan penyebab langsung gejala lemas dan meningkatkan risiko komplikasi trombotik 4, 2, 3
- Setiap sesi flebotomi dapat menurunkan hematokrit secara bertahap tanpa risiko terhadap janin 1
Evaluasi dan Manajemen Demam
Demam pada pasien ini memerlukan evaluasi segera untuk sepsis maternal, yang merupakan penyebab utama mortalitas maternal dan memerlukan antibiotik spektrum luas segera tanpa menunggu hasil kultur. 5
- Kombinasi demam, takikardia, dan leukositosis sangat mengarah pada sepsis maternal 5
- Antibiotik spektrum luas harus dimulai segera karena pemberian antibiotik dini menurunkan morbiditas maternal dan neonatal 5
- Akses IV segera dan persiapan untuk kemungkinan persalinan darurat jika terjadi fetal distress 5
- Monitoring tanda vital kontinyu termasuk heart rate, tekanan darah, suhu, dan saturasi oksigen 5
Terapi Antitrombotik
Aspirin dosis rendah (75-100 mg/hari) dikombinasi dengan LMWH (low molecular weight heparin) merupakan terapi standar untuk polisitemia vera dalam kehamilan guna mencegah komplikasi trombotik maternal dan meningkatkan outcome janin. 1
- Dalam analisis 493 kehamilan dengan essential thrombocythemia (kondisi serupa), penggunaan aspirin (61%) dan LMWH (19%) menghasilkan angka kelahiran hidup 70.2% dengan kejadian trombosis maternal hanya 3.5% 1
- Pada polisitemia vera spesifik, kombinasi aspirin dan LMWH profilaksis postpartum (dengan beberapa pasien menerima LMWH antepartum) meningkatkan angka kelahiran hidup secara signifikan 1
- LMWH harus dilanjutkan minimal 6 minggu postpartum karena periode ini memiliki risiko trombosis tertinggi 1
Monitoring Maternal
Monitoring ketat harus mencakup pemeriksaan darah lengkap, fungsi hati, fungsi ginjal, dan koagulasi minimal 2 kali per minggu, dengan frekuensi lebih tinggi jika kondisi klinis berubah. 1
- Pemeriksaan laboratorium harus mencakup: hemoglobin, hitung trombosit, transaminase hepar, kreatinin, dan asam urat 1
- Monitoring tekanan darah ketat karena pasien dengan myeloproliferative neoplasm memiliki risiko komplikasi hipertensi kehamilan 1
- Evaluasi klinis untuk tanda-tanda preeklamsia, trombosis, atau perdarahan harus dilakukan secara berkala 1
Monitoring Janin
Surveillance janin harus mencakup ultrasonografi serial untuk pertumbuhan janin, cairan amnion, dan Doppler arteri umbilikalis setiap 2 minggu, dengan frekuensi lebih sering jika ada pertumbuhan janin terhambat. 1
- Risiko intrauterine growth restriction (IUGR) pada polisitemia vera berkisar 8-17% 1
- Risiko kehilangan janin trimester kedua/ketiga meningkat pada pasien dengan mutasi JAK2, sehingga monitoring ketat sangat penting 1
- Cardiotocography (CTG) harus dilakukan jika ada kecurigaan fetal compromise 1
Pertimbangan Interferon Alfa
Interferon alfa merupakan satu-satunya agen sitoreduktif yang aman dalam kehamilan dan harus dipertimbangkan jika flebotomi saja tidak cukup mengontrol hitung sel atau jika ada riwayat trombosis. 1
- Interferon alfa dikaitkan dengan angka kelahiran hidup yang lebih tinggi (83%) dibandingkan terapi lain pada polisitemia vera 1
- Interferon digunakan pada 11-18% kehamilan dengan myeloproliferative neoplasm dengan hasil yang baik 1
- Hydroxyurea dan anagrelide bersifat teratogenik dan harus dihentikan sebelum konsepsi atau segera setelah kehamilan terdiagnosis 1
Waktu Persalinan
Persalinan harus direncanakan pada usia kehamilan 37-38 minggu jika kondisi maternal dan janin stabil, atau lebih awal jika terjadi komplikasi maternal (trombosis, perdarahan, hipertensi berat) atau fetal compromise. 1
- Pada kasus dengan riwayat SC 3x, persalinan elektif pada 37-38 minggu dapat mengurangi risiko ruptur uteri 1
- Jika terjadi instabilitas maternal atau fetal distress, persalinan segera diperlukan terlepas dari usia kehamilan 1, 5
- Kortikosteroid untuk maturasi paru janin harus diberikan jika ada kemungkinan persalinan preterm sebelum 34 minggu 6
Manajemen Postpartum
Vigilans tinggi untuk perdarahan postpartum dan trombosis harus dilanjutkan, dengan LMWH profilaksis dilanjutkan minimal 6 minggu postpartum. 1
- Pasien dengan polisitemia vera memiliki risiko perdarahan dan trombosis postpartum yang meningkat 1
- Monitoring hematologi ketat harus dilanjutkan postpartum 1
- Flebotomi dapat dilanjutkan postpartum jika hematokrit tetap tinggi 1, 2
Peringatan Penting
- Jangan tunda flebotomi - Hb 19 g/dL dengan gejala hiperviskositas memerlukan intervensi segera untuk mencegah komplikasi trombotik 4, 2, 3
- Jangan tunda antibiotik - Demam dengan kecurigaan sepsis memerlukan antibiotik segera tanpa menunggu hasil kultur 5
- Jangan gunakan hydroxyurea - Agen ini teratogenik dan kontraindikasi absolut dalam kehamilan 1
- Jangan abaikan riwayat SC 3x - Risiko ruptur uteri meningkat dan memerlukan perencanaan persalinan yang hati-hati dengan akses ke fasilitas operasi darurat 1