What is the relationship between secondary glomerulonephritis and nephrotic syndrome?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: May 18, 2025View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

From the Guidelines

Glomerulonefritis sekunder sindrom nefrotik harus diobati dengan terapi yang komprehensif untuk mengurangi inflamasi pada glomeruli, menurunkan proteinuria, dan mencegah progresi ke penyakit ginjal kronis. Pengobatan ini melibatkan penggunaan kortikosteroid seperti prednisone dengan dosis 1 mg/kg/hari (maksimal 80 mg) selama 4-16 minggu, diikuti dengan penurunan dosis secara bertahap 1. Untuk kasus yang resisten terhadap steroid, inhibitor kalsineurin seperti siklosporin (3-5 mg/kg/hari dibagi menjadi dua dosis) atau takrolimus (0,05-0,1 mg/kg/hari dibagi menjadi dua dosis) dapat ditambahkan 1. Perawatan pendukung termasuk diuretik seperti furosemid (20-80 mg sehari) untuk edema, inhibitor ACE atau ARB untuk proteinuria dan hipertensi, dan statin untuk hiperlipidemia. Pasien harus mengikuti diet rendah natrium (kurang dari 2g sehari), asupan protein moderat (0,8-1g/kg/hari), dan memantau berat badan dan tekanan darah sehari-hari. Pemantauan laboratorium rutin terhadap fungsi ginjal, elektrolit, dan kadar protein sangat penting.

Beberapa pilihan terapi lainnya termasuk miykofenolat mofetil (MMF), dexametason, dan rituximab. Studi terbaru menunjukkan bahwa kombinasi MMF dan dexametason dapat menginduksi remisi parsial dan komplet pada pasien dengan FSGS resisten terhadap steroid 1. Namun, perlu diingat bahwa setiap pasien memiliki kebutuhan dan respons yang berbeda-beda terhadap terapi, sehingga pengobatan harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan individu.

Dalam mengelola glomerulonefritis sekunder sindrom nefrotik, penting untuk mempertimbangkan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, dan kondisi medis lainnya yang dapat mempengaruhi prognosis dan respons terhadap terapi. Oleh karena itu, pengobatan harus selalu dipersonalisasi dan disesuaikan dengan kebutuhan individu pasien.

From the Research

Glomerulonefritis Sekunder Sindrom Nefrotik

  • Glomerulonefritis sekunder sindrom nefrotik adalah kondisi yang kompleks dan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk penyakit ginjal primer atau sekunder 2, 3.
  • Penyakit ginjal primer yang paling umum menyebabkan sindrom nefrotik adalah focal segmental glomerulosclerosis (FSGS) dan membranous nephropathy (MGN) 3, 4.
  • Penyakit ginjal sekunder yang paling umum menyebabkan sindrom nefrotik adalah diabetes mellitus 3.
  • Gejala-gejala sindrom nefrotik meliputi edema, proteinuria, hipolalbuminemia, dan hiperlipidemia 3, 4.
  • Diagnosis sindrom nefrotik didasarkan pada gejala-gejala klinik dan konfirmasi proteinuria berat dan hipolalbuminemia 4.
  • Pengobatan sindrom nefrotik meliputi restriksi natrium, restriksi cairan, diuretik loop, inhibitor konversi angiotensin (ACE), dan pengobatan komplikasi penyakit 3, 4.
  • Biopsi ginjal dapat dilakukan untuk mengkonfirmasi penyakit ginjal primer atau sekunder dan untuk menentukan prognosis 2, 4.
  • Terapi imunosupresif, termasuk kortikosteroid, dapat digunakan untuk mengobati sindrom nefrotik, namun bukti ilmiah masih terbatas 2, 4.
  • Kasus-kasus tertentu, seperti membranous glomerulonephritis yang terkait dengan leukemia limfositik kronik, dapat diobati dengan kombinasi terapi yang meliputi siklofosfamid, vikristin, dan prednison 5.

References

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Research

Nephrotic syndrome in adults: diagnosis and management.

American family physician, 2009

Research

Diagnosis and Management of Nephrotic Syndrome in Adults.

American family physician, 2016

Research

Membranous glomerulonephritis in chronic lymphocytic leukemia.

American journal of hematology, 2004

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.